Tampilkan postingan dengan label Tanah Godi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah Godi. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2015

10 HARI PENUH ANUGERAH



Refleksi Karya Roh Kudus dalam 10 hari antara Kenaikan Yesus (14 Mei 2015) s/d Pentakosta (24 Mei 2015) bagi GKMI Ebenhaezer.

Thema yang diangkat dalam Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, 14 Mei 2015 kali ini sungguh mengingatkan kepada setiap jemaat GKMI Ebenhaezer mengenai makna “MOMENTUM”. Ketika para murid menganggap momentum yang tepat “untuk memulihkan Israel” adalah “Saat ini” , Yesus justru berkata "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya” (Kis 1:7).
Teks ini menunjukkan bahwa “momentum” (saat yang tepat) bagi manusia dan Allah tidaklah sama. Manusia bisa berkata “saat ini, segera, hari ini”, dan menganggapnya sebagai momentum terbaik. Mujijat adalah saat keinginan manusia terjadi sesuai momentum yang diharapkan. Itulah yang dianggap Doa yang terjawab. Namun teks tersebut menunjukkan bahwa momentum Allah sangat berbeda. Sementara para murid meminta. Yesus justru tetap naik ke surga dan meninggalkan mereka. Doa/permintaan sepertinya tidak terjawab, karena Allah punya momentumnya sendiri.
Bagi jemaat GKMI Ebenhaezer, betapa besar keinginan agar ijin IMB dapat segera diberikan oleh pemerintah sehingga GKMI Ebenhaezer dapat segera membangun. Momentum yang tepat adalah “saat ini” karena tak lama lagi GKMI Ebenhaezer akan menahbiskan pendeta dan menghadirkan tamu-tamu se-sinode. Waktu yang tepat bagi Allah untuk mengalikan dana bantuan bagi GKMI Ebenhaezer adalah “saat ini”, karena dana tersebut dibutuhkan untuk segera membangun. Itulah yang seringkali mencuat dalam doa-doa, yang – tanpa sadar – telah menetapkan momentum kami adalah momentum yang tepat, “Tuhan tolong penuhi momentum itu”. Dalam khotbah hari Kamis itu, Bp.Daniel mengingatkan jemaat, namun secara khusus hal itu juga menjadi refleksi pribadi mengenai “kesalahan umum” dalam memahami momentum. Sempat terpikir oleh penulis, mengapa ada banyak kesibukan penting  yang berjalan dalam waktu bersamaan dalam tugas/pelayanan penulis. Saat ini penulis seharusnya berkonsentrasi pada penulisan thesis yang sangat terbatas waktunya (s/d Juli 2015) karena jika tidak selesai, maka harus registrasi lagi dan membayar 7, 2 juta. Untuk perpanjangan tersebut, bantuan subsidi 50 % dari gereja nampaknya tidak akan diberikan. Namun pada saat yang sama, penulis harus berkonsentrasi dengan urusan perijinan gereja (IMB) dengan segala persyaratan dan birokrasi yang kompleks serta menyita waktu; Demikian juga dengan rancangan dan koordinasi pembangunan dan penggalangan dana. Hal ini masih di tambah pada bulan-bulan tersebut, dibutuhkan persiapan untuk Agenda Gereja terkait Masa Raya Paskah, kenaikan Yesus dan Pentakosta dengan segala rapat dan konsep liturgy yang kreatif. Pada saat yang sama, penulis juga harus mempersiapkan periode pergantian pengurus dan periode program (bulan Juni 2015). Setiap komisi membutuhkan pendampingan dalam rapat, evaluasi, penyusunan program, pleno hingga penyusunan pengurus baru. Ada 11 komisi plus BPH, dan sebagian membutuhkan rapat 2 x plus pleno 2 hari. hasil tersebut harus di sinkronisasikan, di ketik dan dipersiapkan sebagai bahan Pleno. Belum lagi urusan menyusun thema tahunan, penjadwalan pengkhotbah, tugas-tugas pelayanan intern maupun ekstern. Kemudian ada lagi persiapan Sidang MPL (16-19 Juni), dimana penulis menjadi utusan dan juga memimpin untuk konven pendeta. Sudah sangat padat…. dan masih ditambah persiapan intensif dan rumit menyangkut rencana enahbisan pendeta pada tgl. 7 Juli. Ini bicara soal acara, undangan, penggalangan dana, kerja panitia, pembuatan undangan, buku acara, khotbah sulung, sambutan-sambutan etc..etc. Rasanya momentum tersebut kurang tepat, karena padat dan bertumpang tindih. Namun perenungan Firman Tuhan menunjukkan bahwa penilaian penulis mungkin salah, karena momentum Allah dengan semua aktivitas tersebut tentunya momentum yang tepat bagi Allah.
Usai ibadah kenaikan tersebut, jemaat diajak ber-Doa Puasa 10 hari mempersiapkan diri menyambut hari pentakosta. Di harapkan tidak ada lagi “doa pemaksaan momentum”, melainkan berganti dengan penyerahan pada “momentum Allah” sebagai “Momentum terbaik”. Itulah hari I dari 10 hari yang luar biasa, yatu ketika pencerahan Allah diberikan. Berikutnya, terjadi hal-hal yang menarik dan luar biasa. Mari kita lihat !!

Hari 1 , Kamis, 14 : Pencerahan akan momentum Allah.

Hari 2, Jumat, 15  : Menghadiri HUT PIPKA, berjumpa beberapa kenalan dari Jakarta dan para donatur PIPKA, yang menyatakan siap membantu dana GKMI Ebenhaezer. Bertemu juga dengan utusan GKMI Jepara yang menyerahkan bantuan untuk GKMI Ebenhaezer.
Hari 3, Sabtu, 16 : Dapat kunjungan dari Ibu Insriatmi Paimoen, kakak dari Alm.Pdt.Dwi Tjahjono (bapak-nya GKMI Ebenhaezer), dan merupakan ketua Dewan Pembina PIPKA yang hadir di jam Doa bersama Mr John F. Lapp, Director for Asia and Middle East, Mennonite Mission Network USA Pimpinan Mennonite Mission Network wilayah Asia. Mereka memberikan kekuatan spirit melalui doa mereka. Support rohani untuk tetap percaya akan waktu, cara dan kebaikan Allah. Support ini bagi sebuah gereja memiliki dampak yang sangat besar.


Hari 4, Minggu, 17           : Pagi, Mr.John Lapp datang lagi dalam ibadah umum dan menyerahkan bantuan dari saudara-saudara di College Mennonite Church – Goshen. Jumlahnya besar, dan datang dari jemaat yang tidak pernah kami temui atau kenal. Jemaat ini juga pernah mengalirkan bantuan untuk aksi sosial korban bencana banjir. Sorenya, ada kunjungan survey dari FKUB langsung didampingi ketuanya, Dr.Choiron. Dan mereka menyatakan bahwa FKUB tidak menemukan adanya keberatan warga, dan mereka akan memberikan rekomendasi setelah beberapa revisi dari bendel pengajuan IMB. Aduuh....rasanya plong. 

Hari 5, Senin, 18  : Makin Plong, ketika hasil revisi laporan diterima Ketua FKUB saat penulis antarkan ke rumahnya. dan beliau menyatakan akan segera membuatkan surat rekomendasi.Beliau nampak ramah dan bersahabat, dan menyatakan senang dengan cara GKMI Ebenhaezer dengan membangun relasi baik dengan warga terlebih dahulu. 

Hari 6 , Selasa, 19 : Ada kiriman bantuan lagi ... Olala.....kali ini seseorang dari Demak, (entah pribadi atau dari GKMI Demak belum jelas, karena tidak ada konfirmasi lebih lanjut) , jumlah yang besar juga. Halleluya. Sorenya rapat panitia, ada jemaat yang menyatakan siap membantu dana untuk pembuatan kamar mandi . Kamar mandinya buat “yang bagus ya” (katanya) dan perluasan ruang ibadah, karena yang sekarang ini saja sudah nyaris nggak muat. (Woow...padahal kapasitas sudah dibuat 150 kursi lho) 
Hari 7, Rabu, 20 : Rapat BPH, ada informasi bahwa persembahan granit dari jemaat siap digunakan (dan dari pihak penjual, bersedia memberi discount ... 50 % Woow..nggak main-main) , termasuk persembahan cat.... 
Hari 8, Kamis, 21 : Menyambut lomba K-3, gereja dikunjungi para pejabat kabupaten, RT, RW, Lurah dan tokoh-tokoh masyarakat Parenggan. Mereka masuk ke gereja dan Pak Lurah justru yang menerangkan keberadaan gereja sebagai bentuk pluralisme kehidupan beragama di Parenggan. Dikatakan oleh beliau, bahwa masyarakat mendukung demikian juga pejabat penentu seperti FKUB. Para pejabat dan tokoh masyarakat menyambut kehadiran gereja dengan antusias. 
Hari 9, Jumat, 22  : Ada kunjungan dari PT.Pura Barutama yang mensurvey dan akan memberikan bantuan plafond senilai 80 jutaan. Diharapkan menulis rincian kebutuhannya. 
Hari 10, Sabtu, 23 :  Ada info masuk bahwa Pemda siap membantu dana bagi pembangunan rumah ibadah, karena pemda memiliki alokasi untuk itu. Pengurus diminta membuat proposal. 

Pada hari Minggu, 24 Mei 2015, dalam perayaan Pentakosta, jemaat menyambut dengan sukacita rangkaian berkat tersebut. hal ini diyakini bisa terjadi di luar akal nalar manusia, melainkan karena pekerjaan Roh Kudus. Pada hari itu juga diadakan ibadah “unduh-unduh” (tuaian berkat Tuhan), dan jemaat tidak segan-segan memberikan persembahannya yang terbaik untuk rumah Tuhan, sekalipun tidak sedikit di antara mereka terbatas dalam hal ekonomi. Cinta seringkali membuat seseorang mampu memberi lebih dari kemampuannya. Persis jemaat Makedonia " Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku (Paulus) bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. (II Kor 8:2-3)"
Sorenya ….. tetangga sebelah kanan gereja menginformasikan bahwa 50 % tanah dan rumah-nya yang menempel di gereja, akan di jual untuk gereja, supaya lahan parkir lebih luas dan tersedia ruang untuk Aula, ruang anak, koster, guest house.. …weleh..weleh…weleh… Betul-betul luar biasa momentum Allah.


Dalam kekaguman akan momentum-Nya




"Hitherto the Lord has helped us."
Memoar of May 14, 2015
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw



IBADAH PEMBUKAAN GKMI EBENHAEZER di TANAH GODI, 01 Januari 2015

Hujanpun Tertahan
Mendung yang menggantung di langit kota Pati Bumi Mina Tani seolah mau mengerti damba jemaat GKMI Ebenhaezer di awal tahun 2015. Meskipun setiap sore hujan rajin menyambangi kota ini pada minggu-minggu menjelang pergantian tahun 2014 – 2015 , namun sore itu, 01 Januari 2015 Pk.18.00, sang hujan menahan diri dan tidak meneteskan setitik air, sehingga jemaat GKMI cab.Ebenhaezer dapat menjalankan ibadah syukurnya. Bukan sekedar ibadah syukur menyongsong Tahun Baru 2015, tetapi juga ibadah syukur menyambut anugerah Rumah Ibadah bagi jemaat ini. Meskipun bangunan rumah ibadah masih belum tertata sempurna, namun lebih dari 150 jemaat berduyun-duyun memadati ruang ibadah di “Tanah Godi”, Jln.dr.Susanto 108 Pati tersebut.Jemaat nampak antusias dan jauh dari kekuatiran hujan turun yang akan beresiko “membubarkan” ibadah karena atap bangunan masih terbuka sebagian menampakkan langit kota Pati yang turut menyaksikan peristiwa bersejarah ini.  Ketidaknyamanan karena tumpukan material dan rangkaian bambu berbaur dengan bau debu dan semen tidak mengganggu jemaat untuk menaikkan pujian syukur atas kebaikan Allah.
Bangunan rumah Ibadah GKMI Ebenhaezer itu memang belum selesai dibangun ketika ibadah pembukaan gedung baru di awal tahun baru  ini di selenggarakan. Bukan hanya atap yang belum terpasang lengkap, dinding bangunan pun belum diplester, lantai masih berupa lantai lama dari semen yang retak di sana-sini, altar pun hanya berupa gundukan tanah di lapisi triplek dan karpet, serta lampu-lampu hanya di tata bergelantung seadanya. Dapat di bayangkan betapa “kacaunya” jika hujan tercurah dan membanjiri bangunan ini. Namun Tuhan begitu baik. Dalam kasih-Nya, ia menopang mendung kelabu dan setiap tetes air hujan yang siap turun. Ibadah berjalan dengan lancar hingga usai, dan jemaat pun pulang dengan sukacita. Dan hanya selisih 1 jam kemudian, hujan mengguyur kota Pati dengan curahan yang begitu lebat.
Ibadah pembukaan rumah ibadah ini di awali dalam pujian syukur dan Mazmur Bait Allah di luar bangunan beratap langit, dilanjutkan dengan pemotongan pita oleh gembala jemaat, Bp.Pdm.Daniel Kurnawan,STh menandai dibukanya bangunan tersebut sebagai rumah ibadah/gereja baru bagi jemaat GKMI Ebenhaezer. Diliputi oleh keagungan hadirat Tuhan, jemaat dengan tertib memasuki ruang ibadah sambil melantunkan tembang “Kemuliaan Bagi Tuhan”. Penari remaja “Militia Christy” – Shinta, Dewi, Thea, Nana dan Velly – dengan jubah kuning emasnya membuka jalan prosesi dengan tarian yang membahasakan pujian syukur bagi Kristus Sang Kepala Gereja.


Ibadah ditata begitu rupa dengan lagu-lagu ceria untuk membangun sukacita jemaat, namun tak urung sukacita itupun berbaur dengan linangan air mata haru jemaat yang telah 6 tahun lebih bergumul dalam doa, upaya dan damba untuk memiliki rumah ibadah sendiri. Senyum bersimbah air mata, dan tangis bernuansa bahagia telah menjadi perpaduan istimewa yang mewarnai lantun “ Mars Ebenhaezer” yang menggema memenuhi rumah ibadah Anugerah Allah dan menoreh awal kehadiran GKMI Ebenhaezer di “Tanah Godi” – kel.Parenggan, Pati.

Penyertaan yang Sempurna
Di bawah thema “Penyertaan Yang Sempurna”, Bp.Pdm.Daniel Kurniawan mengupas Mazmur 139:1-12 yang mengungkap 3 sisi penyertaan Allah, yaitu dulu, kini dan masa datang. Setiap jejak perjalanan di masa lalu merupakan bagian pembentukan Allah bagi iman dan hidup kekristenan yang semakin didewasakan. Sekalipun harus meninggalkan tahun 2014 dan gereja yang lama dengan segala kenangan yang indah, jemaat di ajak untuk tidak terkurung dalam kesedihan, sebaliknya mampu melihat karya Allah dalam bingkai syukur. Allah, yang olehnya jemaat berucap “Ebenhaezer” di masa lalu sebagai pengakuan atas pertolongan Tuhan, adalah Allah yang sama, yang olehnya jemaat pun dimampukan berucap “Ebenhaezer” di masa kini dan di masa mendatang.
Secara mengejutkan, jemaat melihat sebuah keunikan dari cara Allah bekerja. Sejak 17 Agustus 2008, jemaat diijinkan Tuhan meminjam tempat di Jln.Pemuda no.333 Pati. Alamat dengan nomor yang menarik : “333”. Namun lebih menarik lagi, ketika ternyata bahwa Tuhan memberikan waktu bagi jemaat GKMI Ebenhaezer untuk beribadah di Jln.Pemuda 333 sebanyak 333 minggu. Sama sekali bukan rekayasa apalagi direncanakan, namun itulah fakta yang mengagumkan dari penyertaan Allah. Selama 333 minggu jemaat dipersiapkan Tuhan di Jln.Pemuda 333 tersebut agar siap memasuki tantangan dan masa depan baru di “Tanah Godi” – tanah cermin realita, asa dan komitmen : “God & I” – dimana jemaat akan bertumbuh bersama dengan berpangkal tolak dari keintiman relasi inter-personal dengan Allah yang mewujud dalam hidup komunitas dan pelayanan yang makin luas. Refleksi pemaknaan Tanah Godi sebagai Tanah “God & I” ini menyiratkan intimitas penyertaan Allah yang sempurna dalam kehidupan orang percaya. Menurut Bp.Pdm.Daniel Kurniawan, ada 4 macam bentuk penyertaan yang digambarkan oleh Sang Pemazmur, yaitu :
(1)    Penyertaan dari luar dan dalam , yaitu penyertaan yang menembus dimensi fisik maupun psikis manusia, pada apa yang dilakukan maupun apa yang masih dipikirkan/diinginkan. Di awal lahirnya GKMI Ebenhaezer, dapat dikatakan jemaat tidak memiliki apapun. bangunan pinjam, mimbar pinjam, kursi pinjam bahkan kantong kolekte dan semua peralatan merupakan barang pinjaman. Namun secara fisik, Allah melengkapi dengan semua fasilitas tanpa ada yang kurang. Secara psikispun, di awal lahirnya jemaat GKMI Ebenhaezer, jemaat adalah orang-orang yang terluka dan tersingkirkan. Namun Tuhan menguatkan hati jemaat untuk “tidak berharap pada manusia” namun “berharap sepenuhnya pada Allah”. Lka hati Tuhan pulihkan, bahkan hati yang baru untuk mencintai Tuhan lebih dari segalanya telah Tuhan berikan.
(2)    Penyertaan dari belakang dan depan, yaitu penyertaan yang menembus dimensi otoritas dan kuasa, yang terkait dengan perlindungan  dan berkat. Telah terbukti bagaimana Allah menyertai jemaat dari segala macam tekanan dan terror yang mengiris hati di masa lalu. Perlindungan-Nya sungguh nyata, se-nyata berkat-berkat yang Tuhan curahkan. Masa lalu ada di Tangan Tuhan, demikian pula perjalanan ke depan sudah dipersiapkan Tuhan dengan tersedianya “Tanah Godi”. mentalitas jemaat dipersiapkan Tuhan, demikian juga dengan lingkungan yang mendukung sedemikian rupa.
(3)    Perlindungan dari atas dan bawah, yang menembus dimensi  ruang dan batas tempat, yaitu yang terkait dengan penyertaan Tuhan dimanapun kita berada. Sebagaimana di Jln.Pemuda 333, demikian juga di Tanah Godi, penyertaan Allah yang sempurna akan tetap dinyatakan. Tidak ada yang berubah dari kasih Allah, sekalipun lokasi rumah ibadah berubah. Penyertaan Allah tidak dapat dibatasi oleh ruang maupun tempat.
(4)    Penyertaan dari dulu, sekarang dan mendatang, yaitu penyertaan Tuhan yang menembus dimensi waktu. Itulah sebabnya jemaat berucap syukur “Ebenhaezer” !! dalam setiap waktu dan kesempatan. Sebuah pengakuan akan sempurnanya penyertaan Allah.

Penutup
Dalam ibadah yang dipandu panca-pemuji Komisi Ibadah “Ekklesia”: Bp.Pujiono, Ibu Kenik, Ibu Sulih, Ibu Novi dan Ibu Lianita ini dihadiri juga oleh Bp.Suwarno selaku Ketua RW, tetangga beragama Kristen disekitar lokasi, dan keluarga Pdm.Nemueli Zega (Gembala jemaat GKMI Progo) dan keluarga Pdt.Paulus Hartono (Direktur MDS).  Dalam sambutannya, Bp.Suwarno menyambut dengan gembira kehadiran GKMI Cab Ebenhaezer sebagai gereja perdana yang hadir di wilayah pemerintahan desa Parenggan. Beliau berharap agar gereja sungguh-sungguh menjadi berkat bagi masyarakat melalui pelayanan sosial, kehidupan umat yang baik dan ramah lingkungan, serta ketertiban dalam hidup bermasyarakat dalam konteks pluralitas yang saling menghargai perbedaan. Bp.Pdm.Nemueli Zega dalam doanya membawa GKMI cab.Ebenhaezer dalam permohonan atas berkat Tuhan bagi pergumulan di saat ini maupun harapan dan tantangan di masa depan. Hamba Tuhan yang rela menaiki sepeda motor dari Semarang ke Pati bersama istri dan kedua putri kecilnya ini menyatakan kekagumannya atas kemajuan jemaat GKMI Ebenhaezer yang telah dikenal dengan baik sejak awal kelahirannya, dan berharap dengan memiliki gedung gereja yang baru ini maka jemaat akan mengalami pertumbuhan yang jauh lebih baik dan layak untuk didewasakan. Sedangkan Bp.Pdt.Paulus Hartono memberikan nasehat pastoral yang mengingatkan jemaat mengenai spirit natal yang melihat pada karya dan pertolongan Tuhan Yesus bagi umat-Nya.
Ibadah pembukaan rumah ibadah/gereja ini di akhiri dengan  perjamuan kasih dan ramah tamah antar jemaat dan warga Kristen yang hadir. Meskipun berbeda denominasi, warga menyatakan siap mendukung dan bekerja sama dengan GKMI Ebenhaezer untuk menghadirkan Kerajaan Allah di “Tanah Godi” pada khususnya dan kota Pati pada umumnya.


"Hitherto the Lord has helped us."
Januari 2015
Ebenhaezer
From the desk of  Daniel Lauw